Minggu, 30 Maret 2014

Tugas tulisan Softkill Aspek Hukum Indonesia

Nama  : Khaerunnisa
Npm   : 24212068
Kelas  : 2EB09

Kegelapan Hidup
Tak tau harus kemana melangkahkan kaki ini
Tak sanggup mendengarkan suara yang sejati
Hanya mengabdi untuk kepentingan nafsu belaka
Kepentingan sendiri yang ku utamakan
Sampai-sampai buta mana utara mana selatan
Hal kecil dibesar-besarkan yang besar diremehkan
Hal penting disepelekan yang sepele diutamakan
Yaa allah . . .
Sungguh busuk hidup kami
Dan kan lebih membusuk lagi
Entah kegelapan apa yang harus dijalani kami..
Ayomilah kami ..
Yaa.. Allah

Etika dan Moral Poitik Vs Penegakan Hukum

Nama  : KHAERUNNISA
Npm    : 24212068
Kelas   : 2EB09

Etika dan Moral Poitik Vs Penegakan Hukum
Pada hakekatnya politik dan hukum itu tidak bisa dipisahkan,karena memang saling berkaitan antara politik dan hukum.Khususnya dalam melaksanakan tugas dalam pemerintahan khususnya dalam pembangunan dan kebijakan politik.
Adanya pergantian mentri/pemimpin adalah salah satu contoh dari adanya politik dan hukum setiap pergantian mentri pun peraturan/kebijakanpun ikut berganti,dan kebijaan politikpun memerlukan suatu dukungan berupa payung hukum yaitu politik hukum dari keukuasaan yang sedang berrkuasa agar rezim yang sedang berkuasa memiliki landasan yang sah dari konsep dan strategi politik pembangunan yang sedang berlangsung.
Etika dan moral terdiri dari 3 hal : yang pertama,etika dan moral individual lebih mendasar kepada kewajiban dan sikap manusia terhadap diri sendiri,yang kedua , etika moral mengacu terhadap kewajiban dan hak ,sikap dan perilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi.Ketiga yaitu, etika lingkungan hidup yang berkaitan dengan hubungan manusia sebagai makhluk individu dan sebagai kelompok dengan lingkungan alam.
Proses penegakan hukum secara implisit tidak dapat dihindarkan karena politik hukum rezim yang sedang berkuasa.Trias politika dimana antara legislatif,eksekutif dan yudikatif keberadaanya tidak berdiri sendiri, bangsa indonesia dalam menjalankan konsep trias politika dalam bentuk pemisahan kekuasaan bukan pembagian kekuasaan.
Rakyat merasa tidak puas atas penegakan hukum diindonesia,disisi lain para politikus kurang memahami dan menghormati etika politik saat menjalankan proses demokrasi yang cenderung melanggar hukum.Ketidakpuasan rakyat selama ini memunculkan fenomena distrust dan disintegrasi bangsa yang pada akhirnya mengancam keutuhan NKRI.Pada tahun 2001 MPR RI mengeluarkan Ketetapan MPR RI No. VI/MPR/2001,yaitu tentang  Etika kehidupan berbangsa.Munculnya kekahwatiran para wakil rakyat di MPR tersebut terungkap sejak terjadinya krisis multidimensi yang memunculkan ancaman yang serius terhadap persatuan bangsa, dan terjadinya kemunduran pelaksanaan etika kehidupan berbangsa.
Jadi etika politik mempunyai kontribusi baik tidaknya proses penegakan hukum di indonesia ,apalagi yang seperti kita ketahui moral penegak hukum yang sudah terlanjur bobrok , tidak dipungkiri negara indonesia cukup lengkap runyamnya penegakan hukumnya.
Sebagai sampel berikan contoh yang baik dari para politikus,para masyarakat dan agama, para penguasa ,rencanakan sistem pendidikan dengan mengedepankan penidikan akhlak dan kepribadian,agar nantinya dapat mencetak generasi penerus yang berdaulat dan bermartabat.

Tugas Tulisan Aspek Hukum Indonesia

Nama  :KHAERUNNISA
Npm   : 24212068
Kelas  : 2EB09
Tugas Softskill Aspek Hukum Indonesia

Berwisata Ke Candi Borobudur
            Sewaktu Smp dari pihak Smp mengadakan Study Tour yang sudah menjadi tradisi untuk mengadakan Study tour ini,yang manfaatnya sangat baik buat murid-muridnya selain menambah wawasan/pengalaman , juga dapat menikmati kebersamaan dan Keindahan yang terdapat di candi borobudur itu.
Awal berangkat study tour ,kami merasa happy banget disepanjang perjalanan kami menyanyi bareng-bareng, sampai-sampai perjalanpun ditempuh terasa cepat sekali,sesampai disana kita langsung bergegas melihat keindahan yang ada di kota jogjakarta ini, ada yang sibuk berfoto-foto , ada yang sibuk melihat-lihat setiap candi dan sebagainya. Setelah 2 jam lebih disana kita langsung istirahat untuk makan dan sholat.
Saya akan bercerita sedikit tentang candi borobudur, jadi  Borobudur adalah  monumen Budha terbesar didunia dibangun pada masa raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra pada tahun 824. Candi Borobudur memiliki luas 123 x123 m2 dengan 504 patung Budha, 72 Stupa terawang dan 1 stupa Induk.
Tidak jauh dari tempat Cndi Borobudur disekelilingnya banyak pedagang souvenir hasil dari kerajinan tangan daerah setempat Seperti hiasan patung,Replika candi, candi borobudur/candi prambanan ,tas batik ,kaos oblong ,pernak pernik gelang kalung dsb.
Setelah selesai mengeliligi Cndi Borobudur dan sekelilingnya kamipun bergegas untuk membeli oleh- oleh di Malioboro yaitu pusat oleh-oleh di Jogjakarta,
Malioboro adalah kawasan ikon wisata Yogyakarta dan merupakan pusat destinasi wisata belanja dunia yang diserbu para wisatawan untuk mencari oleh-oleh khas jogja yaitu berupa Souvenir , baju batik, ataupun makanan. Kawasan Malioboro sebagai salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja,ini didukung oeh adanya pertokoan ,rumah makan,pusat perbelanjaan,dan tak ketinggalan para pedagang kaki limanya .
          sayang sekali  jika  jalan-jalan ke Jogjakarta tidak mampir ke Malioboro.
              



Sabtu, 11 Januari 2014

TUGAS SOFTSKILL



REVIEW JURNAL
PENDIDIKAN NILAI-NILAI KECAKAPAN HIDUP PUNGGAWA DAN SAWI
DALAM SISTEM SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN
ETNIS BUGIS PERANTAUAN DIKOTA BANDARLAMPUNG
OLEH  :
RUDI IRAWAN
UNIVERSITAS Megaupak, Tulang Bawang Lampung
Basrowi dan Iskandar
FKIP Unila
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume & Nomor 2, November 2011

C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pendidikan Nilai-nilai Kecakapan Hidup Dalam Lingkungan Keluarga Nelayan Punggawa pada etnis Bugis Perantauan di Kelurahan Kota Karang
            Proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi yang ada pada masyarakat nelayan etnis bugis merupakan suatu proses belajar individu dalam berperilaku sesuai dengan standar kebudayaan masyarakatnya.Proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi yang terjadi dilingkungan keluarga nelayan dilingkungan keluarga punggawa dan sawi merupakan suatu proses pendidikan dalam pembentukan karakter dan kepribadian yang sangat penting bagi anggota keluarga nelayan Bagang etnis Bugis dikelurahan Kota Karang,terutama generasi muda.Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang terdiri dari ayah,ibu dan anak dan lingkungan pertama bagi anggota keluarga untuk belajar berbaagai pengetahuan,keterampilan,nilai,norma dan sebagainya.Terbentuknya watak dan kepribadian sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara dan corak orang tua memberikan pendidikan dan bimbingan bagi anak-anaknya.
            Proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup diingkungan keuarga nelayan Bagang etnis bugis dikelurahan Dikota Karang  adalah proses belajar , yaitu suatu proses akomodasi dimana individu menahan,mengubah impuls-implus dalam dirinya dan mengambil alih cara hidup / kebudayaan masyarakat setempat , Kedua  dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri individu.Dari hasil penelitian yang telah diungkapkan pada bagian terdahulu memberikan keterangan tentang nilai-nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi , seperti kepemimpinan , rasa pengabdian , kejujuran , bekerja keras ,gotong royong dan tenggang rasa dalam lingkungan keluarga nelayan Begang etnis Bugis dikelurahan Kota Karang.
            Oleh karena itu , proses pendidikanilai-nilai kecakapan hidup Punggawa dan Sawi yang terdapat pada masyarakat nelayan etnis Bugis terdiri dari dua pola yaitu , pola partisipasi bagi keluarga punggawa yang sudah berpendidikan atau memiliki perekkonomian yang baik , sehingga pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup dalam lingkungan keluarga punggawa kepada anggota keluarganya, terutama anak-anaknya sebagai generasi penerus dilakukan secara demokratis dan bersifat partisipatoris , yaitu proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup dalam membentuk kepribadian seorang anak difokuskan pada keinginan anak dalam mempelajarinya , baik dilingkungan keluarga , maupun dalam pergaulanya dimasyarakat.Sosialisasi partisipatoris  memberikan penghargaan dan membuka komunikasi dengan pihak yang tidak setuju dan memberikan kebebasan bagi adanya pelaku yang berbeda-beda , apabila sampai pada tingkat yang tidak terima , diarahkan untuk  memberikan kemungkinan berubah kepada pola yang dilakukan pendidik dalam mewarisi nilai-nilai kecakapan hidup.Pol semi , kuasi , represif dapat dilihat pada keluarga punggawa yang masih berfikiran konservatif dan mengalami masalah perekonomian dalam keluarganya.
            Tata nilai tentang Kecakapan hidup disampaikan dan disosiailisasikan oleh paman , bibi ,dan nenek kepada anggota keluarganya dengan cara memberikan ketegasan bersikap kepada anggota keluarganya dalam masyarakat , sedangkan orang tuanya terutama bapaknya hanya mengikuti saja .
            Dilihat dari proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi kepada anggota keluarga punggawa terutama anak,setidaknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Pertama keteladanan orang tua , seorang anak akan cenderung bersikap sopan , santun , patuh kerja keras , disiplin , religius dll , apabila orang tua memiliki keteladanan tentang hal demikian. Kedua , lingkungan pergaulan,pergaulan anak berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian anak.Orang tua berusaha semaksimal mungkin untuk  mengarahkan pergaulan anak kedalam lingkungan baik bagi perkembangan dimasa  depan. Anak yang hidup dalam lingkungan reigius maka anak itupun menjadi anak yang reigius pula begitu juga sebaliknya , hal ini bisa dari hasil penelitian yang memberikan keterangan sbb :
1.Banyak anak juragan yang berusi 15-20 bekerja sebagai nelayan sawi pada juragan punggawa lain.
2.Banyak juragan waktunya dihabiskan untuk mengurusi usaha Bagang Sehingga proses sosiliasi anak terhadap nilai kepemimpinan orang tua tidak bisa berjalan semestinya.
3.Anak-anak juragan setelah lulus SMP bisa turun kelaut untuk ikut dengan juragan lain.
Metode yang digunakan untuk mempengaruhi anak dalam membentuk kepribadiannya yang pertama , yaitu metode ganjaran / hukuman baik berupa fisik maupun hukuman sosial.Kedua ,metode didactic teaching yaitu mengutamakan pengajaran kepada anak didik tentang berbagai macam pengetahuan dan keterampilan. Ketiga, metode pemberian contoh karena anak lebih dominan mencontoh tingkah laku dari orang tuanya. 
Faktor-faktor
Proses sosialisasi nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi , baik dalam lingkungan keluarga :
1.Keteladanan dan kehadiran orang tua dalam keluarga memiliki fungsi pendidikan yang pertama dan utama.
2.Warisan biologis orang tua.
3.Lingkungan fisik.
4.Lingkungan pergaulan
5.Keyakinan terhadap agama.
6.Kebudayaan daerah , kebudayaan daerah juga berpengaruh terhadap kehidupan dan perilaku seseorang, walaupun hal itu jarang disadari.


DAFTAR PUSTAKA
Arikanto , Suharismi 2008 . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta
Rineka Cipta
Basrowi dan Sukidin . 2002. Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro, Surabaya
            Insan Cendekia
            Basrowi dan Suwandi , 2008. Memahami Penelitian Kualitatif.Jakarta.Rineka Cipta
Depdikbud. 1990 . Tata kelakuan di Lingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat
            Makasar.Jakarta . Depdikbud
Depdiknas.2008. Panduan Umum Pengembangan Silabus . Jakarta .Depdiknas
Idi , Abdullah.2011.Sosiologi Pendidikan, Individu , Masyarakat ,dan Pendidikan
            Jakarta, Rajawali Pers.
Paeni , Muhlis, Dkk .1955.Sejarah Kebudayaan Sulawesi Selatan . Jakarta . Depdikbud.
Purgito. 2010. Dasar-Dasar Pendidikan IPS. Diktat Program Psca Sarjana Pendidikan
            IPS , Lampung . FKIP Unila
Putra  , Heddy S. A 1998. Minawag : Hubungan Patron-Klien di Sulawesi Selatan.

            Semarang  . UGM Press .

TUGAS SOFTSKILL



REVIEW JURNAL
PENDIDIKAN NILAI-NILAI KECAKAPAN HIDUP PUNGGAWA DAN SAWI
DALAM SISTEM SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN
ETNIS BUGIS PERANTAUAN DIKOTA BANDARLAMPUNG
OLEH  :
RUDI IRAWAN
UNIVERSITAS Megaupak, Tulang Bawang Lampung
Basrowi dan Iskandar
FKIP Unila
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume & Nomor 2, November 2011

C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pendidikan Nilai-nilai Kecakapan Hidup Dalam Lingkungan Keluarga Nelayan Punggawa pada etnis Bugis Perantauan di Kelurahan Kota Karang
            Proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi yang ada pada masyarakat nelayan etnis bugis merupakan suatu proses belajar individu dalam berperilaku sesuai dengan standar kebudayaan masyarakatnya.Proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi yang terjadi dilingkungan keluarga nelayan dilingkungan keluarga punggawa dan sawi merupakan suatu proses pendidikan dalam pembentukan karakter dan kepribadian yang sangat penting bagi anggota keluarga nelayan Bagang etnis Bugis dikelurahan Kota Karang,terutama generasi muda.Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang terdiri dari ayah,ibu dan anak dan lingkungan pertama bagi anggota keluarga untuk belajar berbaagai pengetahuan,keterampilan,nilai,norma dan sebagainya.Terbentuknya watak dan kepribadian sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara dan corak orang tua memberikan pendidikan dan bimbingan bagi anak-anaknya.
            Proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup diingkungan keuarga nelayan Bagang etnis bugis dikelurahan Dikota Karang  adalah proses belajar , yaitu suatu proses akomodasi dimana individu menahan,mengubah impuls-implus dalam dirinya dan mengambil alih cara hidup / kebudayaan masyarakat setempat , Kedua  dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri individu.Dari hasil penelitian yang telah diungkapkan pada bagian terdahulu memberikan keterangan tentang nilai-nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi , seperti kepemimpinan , rasa pengabdian , kejujuran , bekerja keras ,gotong royong dan tenggang rasa dalam lingkungan keluarga nelayan Begang etnis Bugis dikelurahan Kota Karang.
            Oleh karena itu , proses pendidikanilai-nilai kecakapan hidup Punggawa dan Sawi yang terdapat pada masyarakat nelayan etnis Bugis terdiri dari dua pola yaitu , pola partisipasi bagi keluarga punggawa yang sudah berpendidikan atau memiliki perekkonomian yang baik , sehingga pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup dalam lingkungan keluarga punggawa kepada anggota keluarganya, terutama anak-anaknya sebagai generasi penerus dilakukan secara demokratis dan bersifat partisipatoris , yaitu proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup dalam membentuk kepribadian seorang anak difokuskan pada keinginan anak dalam mempelajarinya , baik dilingkungan keluarga , maupun dalam pergaulanya dimasyarakat.Sosialisasi partisipatoris  memberikan penghargaan dan membuka komunikasi dengan pihak yang tidak setuju dan memberikan kebebasan bagi adanya pelaku yang berbeda-beda , apabila sampai pada tingkat yang tidak terima , diarahkan untuk  memberikan kemungkinan berubah kepada pola yang dilakukan pendidik dalam mewarisi nilai-nilai kecakapan hidup.Pol semi , kuasi , represif dapat dilihat pada keluarga punggawa yang masih berfikiran konservatif dan mengalami masalah perekonomian dalam keluarganya.
            Tata nilai tentang Kecakapan hidup disampaikan dan disosiailisasikan oleh paman , bibi ,dan nenek kepada anggota keluarganya dengan cara memberikan ketegasan bersikap kepada anggota keluarganya dalam masyarakat , sedangkan orang tuanya terutama bapaknya hanya mengikuti saja .
            Dilihat dari proses pendidikan nilai-nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi kepada anggota keluarga punggawa terutama anak,setidaknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Pertama keteladanan orang tua , seorang anak akan cenderung bersikap sopan , santun , patuh kerja keras , disiplin , religius dll , apabila orang tua memiliki keteladanan tentang hal demikian. Kedua , lingkungan pergaulan,pergaulan anak berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian anak.Orang tua berusaha semaksimal mungkin untuk  mengarahkan pergaulan anak kedalam lingkungan baik bagi perkembangan dimasa  depan. Anak yang hidup dalam lingkungan reigius maka anak itupun menjadi anak yang reigius pula begitu juga sebaliknya , hal ini bisa dari hasil penelitian yang memberikan keterangan sbb :
1.Banyak anak juragan yang berusi 15-20 bekerja sebagai nelayan sawi pada juragan punggawa lain.
2.Banyak juragan waktunya dihabiskan untuk mengurusi usaha Bagang Sehingga proses sosiliasi anak terhadap nilai kepemimpinan orang tua tidak bisa berjalan semestinya.
3.Anak-anak juragan setelah lulus SMP bisa turun kelaut untuk ikut dengan juragan lain.
Metode yang digunakan untuk mempengaruhi anak dalam membentuk kepribadiannya yang pertama , yaitu metode ganjaran / hukuman baik berupa fisik maupun hukuman sosial.Kedua ,metode didactic teaching yaitu mengutamakan pengajaran kepada anak didik tentang berbagai macam pengetahuan dan keterampilan. Ketiga, metode pemberian contoh karena anak lebih dominan mencontoh tingkah laku dari orang tuanya. 
Faktor-faktor
Proses sosialisasi nilai kecakapan hidup punggawa dan sawi , baik dalam lingkungan keluarga :
1.Keteladanan dan kehadiran orang tua dalam keluarga memiliki fungsi pendidikan yang pertama dan utama.
2.Warisan biologis orang tua.
3.Lingkungan fisik.
4.Lingkungan pergaulan
5.Keyakinan terhadap agama.
6.Kebudayaan daerah , kebudayaan daerah juga berpengaruh terhadap kehidupan dan perilaku seseorang, walaupun hal itu jarang disadari.


DAFTAR PUSTAKA
Arikanto , Suharismi 2008 . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta
Rineka Cipta
Basrowi dan Sukidin . 2002. Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro, Surabaya
            Insan Cendekia
            Basrowi dan Suwandi , 2008. Memahami Penelitian Kualitatif.Jakarta.Rineka Cipta
Depdikbud. 1990 . Tata kelakuan di Lingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat
            Makasar.Jakarta . Depdikbud
Depdiknas.2008. Panduan Umum Pengembangan Silabus . Jakarta .Depdiknas
Idi , Abdullah.2011.Sosiologi Pendidikan, Individu , Masyarakat ,dan Pendidikan
            Jakarta, Rajawali Pers.
Paeni , Muhlis, Dkk .1955.Sejarah Kebudayaan Sulawesi Selatan . Jakarta . Depdikbud.
Purgito. 2010. Dasar-Dasar Pendidikan IPS. Diktat Program Psca Sarjana Pendidikan
            IPS , Lampung . FKIP Unila
Putra  , Heddy S. A 1998. Minawag : Hubungan Patron-Klien di Sulawesi Selatan.

            Semarang  . UGM Press .